Kamis, 2 Oktober 2014
     

AKBP Sumy Hastry Purwanti, Polwan yang Terlibat Identifikasi 17 Kasus Besar

771
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
Susun Potongan Tubuh Korban seperti Main Puzzle
Keterlibatan AKBP Sumy Hastry Purwanti dalam proses identifikasi kasus-kasus besar melambungkan nama anggota tim Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia itu. Dia pun menandai kiprah tersebut dalam buku yang baru saja dirilisnya.

Laporan Gunawan Sutanto, Jakarta

Kantong mayat itu satu per satu dikeluarkan dari kontainer pendingin di Rumah Sakit Kepolisian Pusat Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (2/10). Seorang perempuan tampak sangat sibuk mendata mayat-mayat korban tenggelamnya kapal imigran gelap di perairan Cianjur, Jawa Barat, tersebut. Dia adalah Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sumy Hastry Purwanti.

’’Berapa jumlahnya, empat puluh empat! Gila, mendekati korban Sukhoi, dong,” ujar dia kepada rekan kerjanya yang mendata kantong-kantong mayat tersebut.

Sudah tiga hari Hastry berada RS Polri Kramat Jati untuk mengurus jenazah-jenazah warga Timur Tengah yang ingin mencari suaka politik ke Australia itu. Polwan yang sehari-hari bertugas di Kasubbid Dokpol Polda Jawa Tengah ini diperbantukan di RS Polri Kramat Jati untuk turut mengidentifikasi para korban itu.

’’Lantaran jumlah korbannya banyak, saya mendapatkan tugas untuk ikut mengidentifikasi di sini (RS Polri),” katanya di sela-sela proses pemindahan jenazah dari kontainer ke kamar mayat.

    Meski bertugas di Polda Jateng, polwan kelahiran Jakarta itu banyak terlibat proses identifikasi yang dilakukan Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia. Terutama kasus-kasus besar yang selama ini terjadi di berbagai daerah.

    Hastry tercatat pernah terlibat dalam identifikasi sekitar 17 kasus besar di tanah air. Di antaranya kasus bom Bali I (2002), bom Hotel JW Marriott (2003), bom di Kedutaan Besar Australia dan bencana alam tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (keduanya pada 2004), Mandala Aircrash di Medan dan bom Bali II (keduanya 2005), serta kasus kecelakaan pesawat Sukhoi di Gunung Salak, Jawa Barat (2012).

    ’’Kecelakaan-kecelakaan laut seperti ini dengan korban cukup banyak juga sering. Termasuk tenggelamnya kapal imigran gelap di Trenggalek, Jawa Timur, beberapa waktu lalu,” papar perempuan yang kini menempuh program doktor di Universitas Airlangga, Surabaya, tersebut.

    Pengalaman terlibat kasus-kasus besar itulah yang kemudian dibukukan Hastry. ’’Saya bisa membuat buku seperti ini karena sering menuliskan pengalaman sewaktu bertugas dalam notes yang selalu saya bawa,” tuturnya. Dari ketekunannya mencatat pengalaman menangani kasus-kasus besar itulah, tebal buku Hastry bisa mencapai 304 halaman.

    Buku berjudul Dari Bom Bali hingga Tragedi Sukhoi; Keberhasilan DVI Indonesia dalam Mengungkap Berbagai Kasus itu disusun hanya dalam waktu enam bulan.

    Saat ditanya mengenai pengalamannya yang paling mengesankan selama terlibat dalam tim DVI, Hastry menyebut tragedi kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet (SSJ) 100, Mei 2012. Peristiwa itu terjadi saat demo flight pada 9 Mei 2012.

    Pesawat canggih made in Rusia itu hilang kontak setelah 20 menit lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Ternyata pesawat yang membawa 45 penumpang itu menabrak Gunung Salak, Bogor, di ketinggian 6.800 kaki.

    ’’Ketika itu, kami agak kesulitan karena kondisi korban sudah tidak utuh,” ungkapnya.

    Dalam ingatannya, saat datang ke RS Polri Sukanto, dia langsung disuguhi potongan-potongan tubuh korban yang ditemukan di TKP (tempat kejadian perkara).

    ’’Banyak yang hancur. Mungkin karena kerasnya tabrakan yang terjadi. Jadi tugas kami ketika itu menyatukan serpihan-serpihan organ, layaknya bermain puzzle,” kenang ibu dua putra ini.

    Hampir 90 persen korban Sukhoi harus diidentifikasi melalui DNA. Sebab identifikasi primer dengan sidik jari, gigi, maupun tulang tidak bisa dilakukan karena kondisi korban yang sudah hancur.

    ’’Yang sedikit memudahkan, banyak korban dari Indonesia, sehingga bisa dicocokkan DNA-nya dengan keluarga. Syukur alhamdulillah semua bisa teridentifikasi,” ujarnya.

    Menurut istri dr. Harry Tjahjanto, Sp.O.G. itu, tidak semua korban bencana bisa dengan mudah diidentifikasi melalui DNA. Dia mencontohkan korban tenggelamnya kapal imigran gelap di Cianjur.

    ’’Yang jadi korban kan kebanyakan orang asing satu keluarga. Jadi untuk mendapatkan rekam medik dan DNA pembandingnya susah,” paparnya.

    Ini berbeda dengan proses identifikasi tragedi bom Bali I. Tiga bulan Hastry terlibat dalam proses penting pengungkapan identitas korban tersebut. Kala itu sebagian korban harus diidentifikasi melalui DNA karena bagian tubuhnya tidak utuh.

    ’’Tetapi saat itu, yang menjadi korban warga asing dengan identitas jelas. Karenanya melalui bantuan tim dari negara para korban, kami bisa mencari rekam medisnya di negara asal,” jelasnya.

    Hastry mengaku ada kepuasan tersendiri ketika berhasil menyelesaikan proses identifikasi. ’’Itu bukan hanya menyangkut keberhasilan tugas kepolisian, tetapi juga bagaimana tanggung jawab kami terhadap keluarga korban," ungkapnya.

    Mengenai tanggung jawab kepada keluarga korban itulah, Hastry punya cerita yang tak terlupakan. Lagi-lagi terjadi pada proses identifikasi tragedi Sukhoi. Ketika itu, Hastry mengumumkan hasil ’’menyusun puzzle”-nya terhadap serpihan-serpihan tubuh korban. Salah satu yang diumumkan ke publik adalah temuan sebuah cincin yang melekat di jari tangan korban yang putus.

    Pengumuman itu mendapat respons dari salah seorang keluarga korban yang mengenali tangan tersebut. Nah ketika penyerahan jenazah yang sudah teridentifikasi itu ke keluarga korban, ternyata cincinnya hilang.

    ’’Keluarga korban tentu menanyakannya. Wah, saya bingung enggak keruan,” terang perempuan yang juga dosen di Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation, Universitas Diponegoro Semarang, UII Jogja, Unissula, dan PTIK Jakarta ini.

    Hastry merasa bertanggung jawab atas hilangnya cincin itu. Dia lalu bekerja keras mencari cincin tersebut. Ternyata, cincin itu tertinggal di tempat pemandian jenazah.

    ’’Wah, saat menemukan cincin itu, leganya tak terbayangkan,” ungkap polwan kelahiran 23 Agustus 1970 ini.

    Catatan-catatan menarik, unik, dan menegangkan itu tergambar dalam buku kedua Hastry tersebut. Hastry mengaku masih berkeinginan untuk berkontribusi dalam tim DVI maupun tim identifikasi internasional yang berpusat di Lyon, Prancis. ’’Itu obsesi saya ke depan. Mudah-mudahan terwujud,” harapnya. (p6/c1/ary)


Baca Juga
Berita Lainnya

Advertise