Kamis, 24 Juli 2014
     

Pompa Membran Ajaib Karya I Gede Wenten yang Go International

788
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
Mampu Olah Air Comberan Jadi Layak Minum
Warga korban banjir atau kekeringan kini tidak perlu bingung mencari air bersih. Berkat pompa berteknologi membran karya I Gede Wenten, air comberan pun bisa disulap menjadi air layak konsumsi. "Pompa ajaib" itu mengantarkan penciptanya meraih B.J. Habibie Technology Award 2013.

Laporan  Zalzilatul H., JAKARTA

Belasan pipa jumbo berjejer rapi di ruangan 40 x 50 meter persegi. Pipa-pipa satu meteran itu sudah dikemas dalam plastik. Sejumlah pipa lebih kecil setinggi setengah meteran juga disimpan di ruang workshop di kompleks rumah I Gede Wenten, kawasan Cimahi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu.

     Pipa-pipa itu merupakan bentuk mini instalasi pompa air milik PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Dengan pipa berdiameter 6 inci, pompa portabel (bisa dibawa ke mana-mana) itu bisa dimanfaatkan untuk mengolah air mentah menjadi air siap minum. Bahkan, air comberan bisa disulap menjadi air layak minum sesuai dengan standar Kementerian Kesehatan.

     Air yang dihasilkan pompa-pompa ajaib itu mempunyai tingkat kekeruhan di bawah 5 NTU (nephelometric turbidity unit), memiliki Ph netral, bebas virus dan bakteri, serta steril dari zat kimia berbahaya.

     Hebatnya, pompa itu tidak membutuhkan air jenis tertentu. Segala jenis air dapat diolah menjadi air bersih, termasuk air yang tercemar logam.

Karena yakin dengan kualitas air yang dihasilkan, I Gede Wenten berani menyematkan inisial namanya untuk pompa ajaib ciptaannya tersebut: IGW Green Ultrafilter.

     "Saya menjamin kualitas air reuse (bekas pakai) setelah diolah dengan pompa ini jauh lebih baik dari kualitas air PDAM saat ini," kata Gede ketika ditemui di rumahnya, Minggu (8/9).

         Karena bentuknya kompak, pompa buatan Gede tidak butuh waktu lama untuk menyaring air, menghilangkan sedimentasi, dan menyehatkan kualitas air. Hebatnya lagi, seluruh proses itu tidak membutuhkan listrik dan bahan kimia. Itu tentu berbeda dengan air olahan PDAM yang membutuhkan kaporit dalam jumlah banyak untuk membunuh bakteri berbahaya dari air sungai yang diolah menjadi air bersih yang siap dikonsumsi.

     "Air bekas pakai dapat kembali dimasukkan ke pompa ini. Begitu terus sampai satu tahun lamanya," terang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.

     Pompa itu sudah mendapat paten internasional. Kualitasnya juga telah terbukti ketika banjir melanda Jakarta awal tahun lalu. Ketika itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan yang mengetahui pompa ajaib Gede Wenten memboyong alat tersebut ke Jakarta. Di depan masyarakat, Dahlan memasukkan air banjir ke pompa, lantas meminum air yang keluar dari pompa itu. Sejumlah direksi BUMN juga mengikuti langkah Dahlan. Tidak ada yang mengeluh sakit perut atau keracunan setelah itu.

     Pompa itu juga pernah dimanfaatkan untuk membantu para korban tsunami Aceh 2004. "Pak Dahlan bilang alat ini adalah PDAM masa depan," terang dosen teknik kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

     Menurut Gede, pompa buatannya memang layak disebut PDAM masa depan. Sebab, dengan alat itu, orang tidak perlu lagi menggali tanah puluhan meter untuk mendapat sumber air.

     PDAM tidak perlu membuat instalasi pengolah air bersih untuk mengolah air kotor menjadi air bersih layak minum. PDAM juga tidak perlu membongkar jalan untuk memasang jaringan pipa.

     Hal terpenting lain adalah tidak dibutuhkan aluminium sulfat serta klorin yang berbahaya bagi kesehatan untuk membuat air olahan itu bebas bakteri.

     Meski ada alat pemutar di pompa tersebut, alat itu sebenarnya tidak layak dinamakan pompa air. Sebab, masyarakat tidak perlu lagi memompa agar air keluar, melainkan sekadar memutar pedal pemutar ke depan untuk memproses air dan memutar lagi ke belakang bila sudah selesai.

     "Akan lebih aman jika masyarakat melakukan filtrasi (penyaringan) tersebut secara langsung sehingga bisa langsung mengetahui kualitas airnya," katanya.

     Cara kerja alat itu sebenarnya sangat sederhana. Air kotor atau air limbah yang dimasukkan ke dalam pipa akan disaring dengan sempurna oleh membran di dalamnya. Pompa cukup diputar ke depan untuk mendapat air bersih dan diputar lagi ke belakang untuk mengeluarkan kotoran yang tersaring.

     Di dalam pipa itu terdapat karbon aktif yang berfungsi mengurangi bau tidak sedap pada air. Selain itu, bisa mengurangi residu klorin dalam air. Membran di dalam pompa berfungsi sebagai polimer yang memiliki kemampuan hidrofilik sehingga mampu menyerap air dan menyaring kotoran.

     Ukuran pori membran sudah diatur hingga level molekuler sehingga mampu menghasilkan air dengan kualitas yang ditentukan, meski air yang digunakan tersebut sudah diproses berulang-ulang.

     "Membran di dalam pompa itu mampu melakukan filtrasi sampai level molekuler sehingga efektif untuk menyaring kotoran, bakteri, virus, dan koloid yang terkandung di air. Sementara itu, bioceramic di bagian bawah pompa berguna untuk meningkatkan antioksidan kualitas air. Bioceramic inilah yang berfungsi mengembalikan kesegaran air," kata Gede.

     Lulusan terbaik ITB angkatan 1982 itu memang telah memutakhirkan penemuan pertamanya, IGW Emergency Membrane, menjadi IGW Green Ultrafilter. Bila alat terdahulu tidak bisa untuk skala besar, alat terbaru sudah bisa untuk industri. Kalau dulu butuh pompa seperti pompa sepeda, kini hanya butuh diputar dengan tangan.

     "Harganya memang cukup mahal (Rp10 juta per unit, Red). Tapi, kualitas air yang dihasilkan akan terjaga selama 10 tahun. Faktor kesehatan dan lingkungan juga terjaga," tegas pria kelahiran Bali, 51 tahun silam itu.

     Selain sangat cocok untuk PDAM masa depan, alat itu akan sangat pas untuk program Millennium Development Goals (MDG’s) Indonesia pada 2025. Menurut Gede Wenten, Kementerian Pekerjaan Umum bisa menggunakan alat itu untuk pengadaan air bersih di 60 ribu desa di Indonesia. Tak perlu menunggu waktu hingga 12 tahun seperti target MDG’s.

     "Tahun depan pun air bersih sudah bisa dinikmati seluruh desa di Indonesia, termasuk di kawasan langganan banjir atau kekeringan," katanya.

     Tanpa menunggu uluran tangan pemerintah, Gede Wenten mulai membangun workshop dan pabrik untuk memproduksi alat temuannya itu. Bekerja sama dengan perusahaan penyalur, dia sudah menjual pompa ajaibnya itu ke sejumlah negara di Afrika, termasuk Afrika Selatan.

     "Alat ini memang belum dikenal di Indonesia karena baru beberapa yang dibagikan dengan bantuan dana CSR. Namun, di luar negeri, alat ini sudah banyak digunakan. Memang butuh keberanian untuk mengubah Indonesia. Tapi, saya yakin bisa," ungkapnya. (p6/c2/ary)


Baca Juga
Berita Lainnya

Advertise