Jum'at, 1 Agustus 2014
     

Abdul Rahman Ayub, Mantan Komandan JI Australia yang Tempuh Jalan Damai

4027
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
Tolak Lamaran Intelijen, Pilih Keliling Masjid
Sepulang memimpin jaringan Jamaah Islamiyah (JI) Australia, Abdul Rahman Ayub kini memilih jalan damai. Setelah melepaskan sejumlah fasilitas dari JI, teman sepelatihan Hambali yang kini ditahan CIA di Guantanamo itu menghidupi diri dengan berjualan donat dan pastel.

Laporan Ridlwan Habib, JAKARTA

Perawakannya tidak begitu tinggi. Namun, otot-ototnya masih menunjukkan kebugaran pada masa muda. Sorot matanya tajam dan penuh selidik. Genggaman tangannya juga mantap. ’’Bagaimana Anda bisa dapat kontak saya?’’ tanya Ayub kepada wartawan koran ini saat ditemui di sebuah restoran Jepang, Jakarta, Jumat (12/4).

Ayub dan pengawal pribadinya, Aznavour Rasyad, sangat antipublikasi. Selain alasan keamanan, dia tidak gampang memercayai orang. ’’Banyak yang mengaku wartawan, namun ternyata intel. Hanya kedok,’’ ungkapnya.

Karena itu, dia selalu melakukan seleksi awal. ’’Biasanya, saya cek dahulu jalur rekomendasinya ke beberapa orang. Misalnya, Anda mengaku dapat kontak dari si X, lalu Y. Nah, kalau klir, bolehlah kita makan bersama,’’ katanya, lantas tersenyum.

Avu, asistennya, dengan sigap memilih menu. Wajar, Ayub selalu hidup dalam kewaspadaan. Dia adalah mantan orang yang sangat penting di JI, sebuah organisasi klandestin yang sering disebut payung gerakan teror di Indonesia. ’’Saya diamanahi memegang komando JI di Australia sejak 1997 hingga 2002,’’ ujarnya.

Sebelum ditugaskan ke Negeri Kanguru, Ayub bergerak di Sabah, Malaysia. Tepatnya di Sandakan, tak jauh dari Lahad Datu. ’’Saya menjadi semacam penghubung atau kurir bagi mujahidin yang hendak berlatih ke Moro, Filipina, melalui jalur Malaysia,’’ ungkapnya.

Hal itu dilakoni pada 1992–1997.

Bapak tujuh anak itu merupakan alumnus Akademi Militer Mujahidin Afghanistan Kamp Ijtihad Islami Abdul Rasul Sayaf. Dia menempuh ilmu kemiliteran di sana pada 1986–1991. ’’Saya berjuang di garis depan melawan Uni Soviet (Rusia). Berapa yang saya bunuh, wah sudah lupa,’’ ujarnya.

Awalnya, Ayub hanya siswa STM Boedi Oetomo yang mengaji di Masjid DDI, Kramat Raya, pada 1983. Dari sana, dia mengenal Sulaiman Mahmud, komandan Darul Islam Aceh. Dari Mahmud, dia mengenal Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar. Lalu, berbaiat untuk setia pada 1985 di Solo.

Ayub berangkat ke Afghanistan bersama 24 orang lainnya dari Indonesia, termasuk Encep Nurjaman alias Riduan Isamudin alias Hambali, otak serangan bom Bali 2002. Di Australia, Ayub tinggal di Perth. Dia bekerja sebagai pengajar agama di komunitas Timur Tengah di sana. Istrinya menyambi menjadi penjahit.

’’Ketika itu, saya sedang proses apply sebagai permanent residence sampai tiba-tiba WTC hancur (2001) dan setahun kemudian Bali diserang bom,’’ ungkapnya.

Dari jaringannya, Ayub mendengar bahwa itu merupakan ulah Hambali, teman sepermainan dan seperjuangannya sejak muda. ’’Saya kecewa sekali. Kok begitu, Indonesia kok dianggap negara perang. Ini saya tidak sepakat,’’ tegasnya.

Di Australia, gerak dakwah Ayub terimbas. Apalagi setelah salah seorang murid pengajiannya yang bernama Jack Roche ditangkap karena merencanakan pengeboman Kedutaan Israel di Canberra. Jack adalah imigran asal Inggris yang memeluk Islam karena dakwah Ayub.

’’Saya memang mengirimnya ke Afghanistan untuk memperdalam agama. Ternyata, dia justru bertemu Osama dan Hambali. Pulang-pulang sudah berubah,’’ kata pria kelahiran 1963 itu.

’’Kalau memang ingin mengebom, ngapain saya utus Jack? saya sendiri juga bisa,’’ ucapnya.

Aparat Australia mulai gelap mata. Setiap yang terdeteksi radikal langsung ditangkap. ’’Saya memang terbang ke Indonesia setelah itu, tapi bukan melarikan diri. Toh, tidak ada bukti apa pun yang bisa mengaitkan saya dengan aksi terorisme,’’ katanya.

Sampai di Jakarta akhir 2002, Ayub memutuskan untuk melepas jabatannya di JI. ’’Saya mencabut baiat (sumpah setia). Saya lepas semua jabatan dan fasilitas saya yang didapatkan di JI,’’ ujarnya.

Fasilitas? ’’Oh iya, JI itu organisasi kaya. Kalau selevel saya bisa dapat rumah dinas dan mobil operasional. Infak jamaah besar, bisa miliaran,’’ ungkap Ayub.

Dia mencontohkan, ada dermawan di kawasan Kemang yang menginfakkan rumah mewah dan mobilnya untuk jamaah. ’’Pokoknya, sekali hati sudah diraih, soal harta itu total, nggak pakai hitungan,’’ ujarnya.

Walaupun dirinya tidak terlibat, Ayub tetap saja menjadi target operasi. ’’Saya dikepung hendak ditangkap di Bintaro waktu itu. Alhamdulillah bisa lolos,’’ ujarnya.

Alumnus LIPIA itu hidup sembunyi-sembunyi dan berpindah-pindah hingga 2006. ’’Bagaimanapun, saya kenal semua yang terlibat pengeboman itu. Bahkan, pernikahan Hambali saya duiti,’’ ucapnya.

Setelah hampir seluruh jaringan tertangkap, Ayub bersedia ditemui aparat.

’’Saya tegaskan tidak setuju dengan mereka, Hambali dan kawan-kawan itu. Tapi, saya juga tidak mau bekerja untuk pemerintah,’’ kata Ayub.

Sebagai tokoh dan organisatoris senior JI, Ayub tentu sangat menggiurkan berbagai lembaga intelijen untuk direkrut. ’’Semua saya tolak. Baik dari Indonesia, BIN, polisi, TNI, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), maupun dari Australia. Memang ada tawaran, tapi saya tidak mau,’’ tegasnya.

Meski begitu, dia mengakui bahwa hubungan dirinya dengan ’’para perayunya’’ tetap baik. ’’Kita nafsi-nafsi (sendiri-sendiri). Silakan kalian begitu, saya memilih keliling ke masjid-masjid saja,’’ katanya.

Risikonya memang berat. Maklum, sebagai orang yang berketerampilan unik (baca bisa membuat bom), tentu tidak gampang mendapat pekerjaan mulai nol. ’’Jamaah sudah tidak melindungi saya, sedangkan saya juga menolak fasilitas apa pun. Bismillah, saya berjualan donat dan kue pastel keliling ke masjid-masjid,’’ ujarnya.

Istri dan anak-anak Ayub yang diboyong ke Indonesia membantu dengan menjahit dan ikut berjualan.

Di sela waktunya, Ayub mendatangi kantong-kantong yang diketahuinya banyak kalangan yang pro dengan pengeboman. ’’Alhamdulillah, banyak yang bersedia berhenti. Saya tidak usah sebut namanya,’’ ungkapnya.

Berhenti dalam arti berhenti memusuhi aparat negara Indonesia.

’’Kalau berlatih, kami terus. Kalau misalnya negara ini diserang asing, Amerika, ya kami lawan sekuat tenaga. Tapi, sekarang ini kan damai. Salat bebas ditegakkan di mana saja,’’ tegasnya.

Meski sudah keluar dari JI, Ayub tetap menjaga hubungan baik dengan Abu Bakar Ba’asyir, pria yang mengutusnya ke Australia pada 1997. ’’Saya sempat menemui Ustad Abu di Rutan Bareskrim. Saya melihat beliau sangat kecewa. Bahkan badannya sampai bergetar ketika tahu saya sudah tidak sepaham,’’ ujarnya.

Di kalangan tertentu, Ayub memang sudah difatwa sesat. Bahkan, darahnya halal. ’’Silakan cek di internet, saya dihujat-hujat begitu rupa. Saya sabar saja karena sebenarnya mereka itu (yang menghujat) adik-adik saya,’’ katanya.

Dia sebenarnya ingin bertemu Abdurahim Ba’asyir, putra Ustad Abu. ’’Yang mendidik Iim itu saya. Alhamdulillah, sekarang dia jadi ustad. Dulu, dia terkenal suka membongkar tas mujahidin yang baru pulang dari Afghanistan,’’ ungkapnya, lalu tertawa.

Ayahnya, Ba’asyir, tak mampu menasihati Iim. ’’Kalau sudah begitu, saya yang maju,’’ katanya.

Ayub berharap ada lembaga netral yang bisa memfasilitasi dialog. ’’Terus terang, saya tidak mau BNPT atau Densus yang mengadakan. Saya bukan bagian dari mereka,’’ tegasnya.

Dihubungi lewat telepon, Abdurahim Ba’asyir hanya tertawa mendengar Ayub ingin berdialog. ’’Saya memang sudah lama sekali tidak mendengar kabarnya,’’ ujar Iim.

Dia mengakui bahwa Ayub pernah mendidiknya. ’’Ya, beliau memang guru saya. Itu fakta,’’ sahutnya.

Soal sikapnya sekarang yang ’’berubah’’, Iim tidak mau berkomentar. ’’Sampaikan salam saja dan silakan itu buku-bukunya yang dulu dibaca lagi,’’ ungkapnya. (p3/c2/ary)

Baca Juga
Berita Lainnya

Advertise