Rabu, 3 September 2014
     

Warga Banyuwangi Lahirkan Bayi Kembar Tiga, Dua Siam

649
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
Bingung karena Tak Punya Biaya Operasi Pemisahan
Bayi kembar tiga lahir itu sudah biasa. Tapi, bila dua di antara tiga bayi itu dalam kondisi dempet (siam), itu termasuk langka. Apalagi, tiga bayi itu lahir prematur dalam usia kandungan tujuh bulan. Itulah yang terjadi di RS Al-Huda Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur.

Laporan Ali Nurfatoni-Abdul Aziz, BANYUWANGI

SEBENARNYA, Yuda Winarno (22) sudah tahu bahwa istrinya, Sika Jayati (22) akan melahirkan bayi kembar tiga dan ada yang siam jauh sebelum hari kelahirannya, Selasa (29/1). Karena itu, dia lebih sering pulang ke rumah daripada sebelumnya untuk menengok sang istri yang hamil kali pertama itu. Selama ini, Yuda bekerja di sebuah perusahaan advertising di Denpasar, Bali. Adapun istrinya tinggal di Banyuwangi.

’’Kami sudah tahu sebelum melahirkan. Jadi, tak begitu kaget. Kalau nggak tahu, kami pasti kaget,’’ kata Yuda yang diiyakan istrinya kemarin.

Meski mengaku tidak kaget, pasangan muda itu kini gundah mengetahui dua anaknya lahir tidak normal. Yakni dempet dari dada hingga perut bagian bawah (thoracoabdominopagus). Seorang lainnya lahir normal. Yang dempet berkelamin perempuan, sementara yang satu laki-laki. Ketiganya lahir ketika kehamilan ibunya masuk usia tujuh bulan.

Bayi kembar tiga itu lahir pada Selasa (29/1) pukul 20.45 di RS Al-Huda Gambiran, Banyuwangi. Dua bayi perempuan yang dempet berbobot 2 kg, sedangkan bayi laki-laki yang lahir belakangan berbobot 1,3 kg. Tiga bayi itu kini dalam penanganan intensif dan dimasukkan ke mesin inkubator.

Pasutri asal Dusun Krajan RT 03/RW 01, Desa Bomo, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, itu kemarin tampak sedih. Itu terlihat dari wajah mereka. Beberapa kali Yuda menerima telepon. Dia pun sibuk keluar-masuk kamar. Melalui sambungan telepon, Yuda terlihat berbincang serius. Sementara itu, sang istri masih lemas dan berbaring di tempat tidur. Ibu muda itu ditemani beberapa anggota keluarganya.

Jika dihitung secara normal, Sika sebenarnya belum waktunya melahirkan. Namun, karena ketuban sudah pecah, dia terpaksa melahirkan dengan usia kandungan tujuh bulan. "Kelahirannya dengan operasi caesar," kata Sika lirih.

Sejak awal mengandung, Sika tidak mempunyai firasat apa pun. Namun, ketika kehamilannya menginjak tiga bulan, sang suami bermimpi diberi tiga burung dalam sangkar. Meski begitu, mimpi itu tidak dianggap serius. Pasutri yang menikah pada 2011 itu menganggap mimpi tersebut hanya bunga tidur.

"Saya sama sekali tidak curiga kalau saya mau punya anak tiga sekaligus," kata Sika sambil menoleh ke arah sang suami yang duduk di sampingnya.

Sejak menikah, pasangan itu tinggal di Denpasar, Bali. Pasalnya, Yuda bekerja di Pulau Dewata itu. Namun, ketika usia kandungan tiga bulan, sang istri dipulangkan ke kampung halaman di Bumi Blambangan. "Saya tetap kerja di Bali. Beberapa kali saya pulang untuk melihat kondisi istri saya," ujar Yuda.

Dia menjelaskan, istrinya beberapa kali kontrol di salah satu dokter praktik di Muncar Medical Center (MMC) di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, untuk melihat perkembangan kandungannya. Ketika itulah diketahui bahwa bayinya kembar siam.

Karena itu, pihak MMC merujuk Sika untuk ditangani RS Al-Huda Gambiran. Ketika itu, usia kandungan Sika memasuki enam bulan. Tapi, pihak rumah sakit meminta Sika memeriksakan kandungannya ke RSUD dr. Soetomo Surabaya.

Beberapa kali pasutri itu pulang-pergi Banyuwangi-Surabaya untuk memeriksakan kondisi kandungan dan jabang bayi kembar yang ada di dalamnya. Sejauh ini kondisi tiga bayi "baik-baik" saja. Sampai akhirnya, Selasa (29/1) sore, tiba-tiba perut Sika sakit. Pihak keluarga langsung membawa Sika ke RS Al-Huda. "Saya diantar pakai pikap terbuka," tuturnya.

Semakin lama sakit perutnya makin menjadi. Dokter lantas memutuskan untuk melakukan operasi caesar. Sika hanya dibius lokal sehingga dia sadar dan bisa melihat tiga bayinya dikeluarkan dari perutnya.

"Yang pertama keluar yang perempuan, baru anak saya yang laki-laki. Alhamdulillah, tangisnya kencang," tuturnya.

Hanya, kini Yuda dan Sika bingung karena tidak mempunyai biaya yang cukup untuk proses pemisahan bayinya yang dempet. "Terus terang, saya bingung. Dari mana uangnya untuk operasi pemisahan nanti," ujar Yuda.

Menurut Humas RS Al-Huda dr. Sugeng, kelahiran bayi kembar tiga terbilang langka. "Di sini (RS Al-Huda) kelahiran ini yang pertama," katanya kepada Jawa Pos (grup Radar Lampung).

Sugeng menjelaskan, penanganan bayi kembar tiga itu kini diambil alih pihak RSUD dr. Soetomo Surabaya. Terutama penanganan bayi siamnya. Meski begitu, bayi itu masih berada di RS Al-Huda.

’’Bayi kembar siam ini butuh penanganan khusus, sehingga semua bentuk perawatan dan apa yang harus kami lakukan mengacu pada petunjuk dari RSUD dr. Soetomo,’’ jelas Sugeng.

Sugeng menyebutkan, tim RSUD dr. Soetomo akan datang ke Banyuwangi untuk memeriksa kondisi bayi itu. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan tiga bayi itu dibawa ke Surabaya untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.

Mengenai perawatan khusus tim kembar siam RSUD dr. Soetomo, Yuda mengaku akan mempertimbangkannya dahulu, khususnya terkait biaya yang harus dikeluarkan pihak keluarga. Yang jelas, dia tak keberatan bayinya dirawat di RSUD dr. Soetomo asal biayanya digratiskan. "Kalau nggak gratis, saya nggak mau," tutur Yuda.

Sementara itu, Tim Pusat Penanganan Bayi Kembar Siam Terpadu (PPKST) RSUD dr. Soetomo mulai menangani bayi kembar siam asal Banyuwangi tersebut. "Kami belum bisa membawa kembar siam itu ke Surabaya karena kondisinya belum stabil. Kalau dipaksa, risikonya bisa meninggal di jalan," kata Ketua Tim PPKST RSUD dr. Soetomo, dr. Agus Harianto, Sp.A.(K.), kemarin.

Agus menjelaskan, bayi kembar tiga itu dipantau tim dokter RSUD dr. Soetomo sejak sebelum dilahirkan. Kebetulan dokter spesialis kandungannya bisa mendeteksi adanya bayi kembar siam ketika usia janin masih muda. Setelah itu, pemeriksaan kandungan dilakukan di RSUD dr. Soetomo. Harapannya, bayi bisa dilahirkan di rumah sakit milik Pemprov Jatim itu dan langsung ditangani.

Tiga hari sebelum melahirkan, sang ibu memeriksakan diri ke RSUD dr. Soetomo. Namun, karena bayi belum mungkin untuk dilahirkan, yang bersangkutan diminta kembali periksa bulan depan. Tiga hari setelah pemeriksaan itu, tiba-tiba ketuban sang ibu pecah. Terpaksa dilakukan operasi caesar di RS Al-Huda, Banyuwangi. "Ketika itu, usia kandungan baru 31 minggu. Normalnya, bayi dilahirkan pada usia 38–40 minggu," kata Agus.

Tim PPKST sudah melakukan koordinasi internal dan berkomunikasi dengan dokter yang menangani kembar siam itu. Informasi sementara yang diterima tim RSUD dr. Soetomo, prognosis atau kondisi bayi kurang bagus. Bahkan, bisa masuk dalam kategori nonseparatable dan nonsurvival. Umumnya, bayi kembar siam dempet dada hingga perut bagian bawah hanya memiliki satu pembuluh darah dan jantung. Karena itu, pemisahannya jauh lebih rumit. Meski demikian, tim dokter akan tetap memantau bayi itu hingga kondisinya stabil.

"Jika sudah memungkinkan, kami akan mengirim tim ke Banyuwangi," terang Agus.

Tim itu terdiri atas dokter spesialis anak, bedah anak, anestesi, dan jantung anak. Mereka akan memastikan apakah bayi kembar siam itu bisa dibawa ke RSUD dr. Soetomo.

Agus menjelaskan, kasus yang ditangani tim PPKST kali ini terbilang langka. Pada 2003, memang ada bayi kembar tiga yang juga dari Banyuwangi. Ketiganya perempuan dan hanya dua yang dempet. Artinya, bayi itu dari satu telur.

Kali ini, satu bayi ternyata berjenis kelamin laki-laki. Dengan kata lain, ada dua sel telur yang dibuahi secara bersamaan. Salah satu sel telur yang kebetulan menjadi janin perempuan membelah lagi menjadi dua. Namun, karena tidak mampu membelah sempurna, terjadi kembar siam.

Untuk membelah diri menjadi dua janin, dibutuhkan waktu sekitar 13 hari. Jika sudah lewat 13 hari sejak pembuahan dan belum membelah secara sempurna, bayi akan jadi kembar siam. "Di RSUD dr. Soetomo, kasus seperti ini baru pertama sejak penanganan kembar siam 1975," kata ketua divisi neonatologi RSUD dr. Soetomo/FK Unair itu.

Agus menjelaskan, 75 persen bayi dempet dada perut berjenis kelamin perempuan. RSUD dr. Soetomo sudah menangani 51 bayi kembar siam. Jika bayi asal Banyuwangi itu bisa dirujuk, bayi tersebut akan menjadi bayi kembar siam ke-52. Khusus untuk bayi dempet dada hingga perut atau thoracoabdominopagus, ada 33 kasus. (p6/c2/ary)

Baca Juga
Berita Lainnya

Advertise