Jum'at, 1 Agustus 2014
     
Home Politika Sinyal Mega Maafkan Herman

Sinyal Mega Maafkan Herman

674
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
Manuver Joko Ditunggu PDIP
BANDARLAMPUNG – Pencalonan Wali Kota Bandarlampung Herman H.N. sebagai gubernur Lampung melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bisa jadi mulus. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberikan sinyalemen memaafkan Herman H.N. terkait istrinya, Eva Dwiana, yang pernah bergabung dengan Partai Demokrat (PD).

Sinyalemen positif ini terbukti dengan dimasukkannya nama Eva dalam daftar calon sementara (DCS) DPRD Lampung dari PDIP. DCS itu ditandatangani langsung Megawati.

Diketahui, ketika Eva menjadi ketua DPC PD Bandarlampung, hal ini mengganjal pencalonan Herman H.N. melalui PDIP. Sebab, sejumlah DPC PDIP kabupaten/kota menyatakan PDIP kecewa karena setelah diusung sebagai calon wali kota dari PDIP, Eva justru memimpin PD.

Tapi, kini Eva sudah mengundurkan diri dari PD dan masuk dalam DCS dari daerah pemilihan (dapil) 1 Bandarlampung dengan nomor urut 10. ”Secara tertulis, nggak ada itu dimaafkan atau mendapat toleransi. Tapi, ini kan iktikad baik Herman H.N. dan Eva. Kami terbuka saja. Seseorang ingin menjadi calon kan itu hak politiknya,” beber Sekretaris DPD PDIP Lampung Dedy Afrizal di kantor KPU Lampung kemarin.

Namun, Dedy mengaku enggan mengaitkan pencalonan Eva sebagai bacaleg di PDIP dengan pilgub. ”Kan Eva masuk (DCS) karena syarat-syaratnya terpenuhi. Kalau pilgub, kami buka peluang seluas-luasnya kepada masyarakat Lampung. Merahkan dahulu Lampung ini dengan aktivitas mereka, nanti ada survei,” katanya.

Ditegaskan, PDIP akan mengusung calon gubernur yang berpotensi dipilih oleh masyarakat karena memiliki target menang pilgub. PDIP juga siap kalau pada akhirnya tidak ada kader ideologis yang diusung menjadi calon gubernur dan wakil gubernur karena tidak memiliki popularitas serta elektabilitas yang tinggi.

Secara formal, kata Dedy, PDIP masih menunggu kepastian waktu penyelenggaraan pilgub. Setelah itu, baru PDIP membuka penjaringan dan penyaringan yang dibuka untuk umum. Sedangkan secara nonformal, Dedy mengaku sudah memonitor calon-calon gubernur. Ia juga mempersilakan para bakal calon yang telah berkomunikasi dengan DPP PDIP.

”Tapi, inisiatif mereka itu tidak memengaruhi mekanisme yang berlaku di partai. Kader ideologis juga nggak jaminan. Kami nggak paksakan kader. Syukur-syukur ada kader. Kalau kemungkinan kecil, ya nggak kader. Yang penting menang,” katanya.

Di bagian lain, Dedy juga mengatakan bahwa Wakil Gubernur Lampung M.S. Joko Umar Said punya peluang diusung PDIP. Hal itu lantaran Joko merupakan salah satu tokoh yang berpeluang besar menjadi gubernur Lampung mendatang. Apalagi dalam Pilgub 2008, Joko berpasangan dengan Sjachroedin Z.P. melalui PDIP.

”Pak Joko merupakan kader eksekutif PDIP. Selama ini, kita melihat dia tidak bermanuver. Kami juga nggak tahu kenapa? Apa memang dia memang tidak mau maju atau ini bagian dari strateginya yang tak mau terlihat? Pada waktunya nanti akan kita lihat,” ujar Dedy.

Jika memang berminat maju pilgub, Dedy menyatakan bahwa PDIP akan memasukkan nama Joko dalam daftar yang akan disurvei popularitas dan elektabilitasnya. Dedy juga tidak berani memprediksi apakah sikap ’’diam’’ dari Joko ini merupakan perintah Gubernur Sjachroedin Z.P. yang sekaligus ketua DPD PDIP Lampung.

”Sekarang kan memang belum ada gerakan atau minat dari Pak Joko. Kami nggak tahu itu pertimbangannya kenapa? Tapi, kami juga tak berani memprediksi apakah dia diperintah atau tidak. Tapi, dia kuat di lapangan, khususnya di kalangan petani dan nelayan,” ungkap anggota DPRD Lampung ini.
Sayangnya, ketika hendak dikonfirmasi tadi malam mengenai pencalonannya dalam pilgub, Joko tidak mengangkat ponselnya meski dalam keadaan aktif. Begitu juga pesan singkat tidak dibalas Joko. (dna/p4/c2/gus)

Advertise