Rabu, 23 Juli 2014
     
Home Nasional Vonis Mati Raja Ekstasi

Vonis Mati Raja Ekstasi

706
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita

JAKARTA – Bandar  ekstasi sindikat internasional, Freddy Budiman alias Budi, divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat, Senin (15/7). Majelis hakim menilai, terdakwa terbukti sebagai pemilik satu kontainer pil ekstasi yang ditangkap pada 2012.

    ’’Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 114 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,’’ kata Hakim Ketua Haswandi saat membacakan vonis kemarin.

    Hukuman mati terhadap Freddy diputuskan karena terdakwa juga mengakui bahwa ekstasi sebanyak 1.412.476 butir yang terdapat dalam kontainer tersebut adalah miliknya.

    Dalam persidangan, raja ekstasi itu mengakui, jutaan butir pil ekstasi tersebut didatangkan dari Tiongkok dan membawanya dengan menggunakan sebuah kontainer. Terdakwa mengelabui petugas Pelabuhan Tanjung Priok dengan mendaftarkan barang miliknya sebagai akuarium impor. Dalam akuarium tersebut diselundupkan jutaan butir pil ekstasi yang dikemas dalam bentuk 12 kardus besar.

    Pengedar ekstasi kelas kakap ini diketahui memiliki jaringan pasar narkoba yang cukup besar. Selain Jakarta, diskotek-diskotek di sejumlah kota besar seperti Bandung, Medan, Surabaya, Makasar, Bali, dan Papua memasok ekstasi kiriman Freddy.

    Hebatnya lagi, pengaturan pengiriman jutaan butir pil ekstasi itu sendiri dilakukan terdakwa melalui Lapas Cipinang, Mei 2012. ’’Terdakwa mengaku mendapatkan keuntungan 10 persen jika berhasil menjual kelebihan narkoba tersebut,’’ katanya.

    Dari hasil itu, untuk memuluskan peredarannya, terdakwa menggandeng sejumlah kenalannya di dalam Lapas Cipinang. Bahkan, dia juga berhasil mendapatkan sebuah gudang di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, untuk menyimpan ekstasi seberat 4 ton tersebut.

Haswandi menerangkan, atas keputusan hukuman mati tersebut, tak ada ungkapan keberatan sedikit pun dari terdakwa. ’’Hal yang memberatkan, terdakwa telah berulang kali melakukan perbuatannya,’’ ucapnya.

    Selain hukuman mati, majelis hakim juga memberikan pidana tambahan kepada terdakwa. Yakni, mencabut hak mempergunakan alat komunikasi. Sebab, berulangkali hak penggunaan telepon genggam yang didapat oleh terdakwa dimanfaatkan untuk mengatur peredaran narkoba dari Lapas Cipinang.

    ’’Artinya, sejak vonis hari ini, dia tidak lagi diperkenankan menggunakan telepon untuk berkomunikasi,’’ ucapnya.

Diketahui, hingga kini, terdakwa sendiri merupakan tahanan Lapas Cipinang atas kasus narkoba yang dilakukannya beberapa waktu silam. ’’Bahkan terdakwa sampai memiliki 40 unit telepon genggam,’’ kata Haswandi.

    Sepanjang persidangan hingga menerima vonis, terdakwa yang mengenakan kemeja putih, bercelana jins dan sandal itu tampak tenang. Usai pembacaan vonis, meski sempat berkonsultasi dengan kuasa hukumnya terdakwa menyatakan belum memutuskan akan mengajukan banding atau tidak.

    Seperti diberitakan, penyelundupan 1.412.476 butir pil ekstasi yang dikendalikan oleh Freddy Budiman itu berhasil digagalkan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Mei 2012 lalu di Pintu Tol Kamal, Cengkareng. Barang tersebut tersimpan dalam sebuah kontainer yang dikirim dari pelabuhan Lianyung, Shenzhen, Tiongkok dengan tujuan Jakarta. Saat penangkapan, Freddy sebagai pemilik barang tidak ada di tempat karena sedang menjalani hukuman di Lapas Cipinang. (jpnn/p1/c3/ary)

 

Politika

Siaga Tinggi, Jamin Kondusif!Siaga Tinggi, Jamin Kondusif!
BANDARLAMPUNG – Pengumuman pemenang Pilpres 2014 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI hari ini (22/7), di Lampung dijamin kondusif. Aparat Polda dan Korem 043/Gatam Lampung siap melakukan pengamanan...