Sabtu, 26 Juli 2014
     
Home Nasional Dua Hakim Dipecat

Dua Hakim Dipecat

428
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita

Mahkamah Agung (MA) dan Komisi Yudisial (KY) kemarin (3/7) menggelar Sidang Majelis Kehormatan atas dua hakim yang dinilai telah melanggar kode etik kehakiman. Keduanya adalah Hakim Pengadilan Negeri Singkawang, Kalimantan Barat Acep Sugiana dan Hakim Ad Hoc Tipikor Pengadilan Negeri Palu Asmadinata. Mereka direkomendasikan dengan ’’pemberhentian dengan tidak hormat’’ oleh KY.

    Sidang yang digelar di Ruang Wiryono, Gedung Utama MA, pukul 09.00 WIB itu mengagendakan mendengar pembelaan para hakim terlapor. Sidang tersebut sesuai dengan pasal tentang peradilan umum dan KY. Yaitu menentukan bahwa sebelum MA dan/atau KY mengajukan usul pemberhentian, hakim pengadilan mempunyai hak untuk membela diri di hadapan Majelis Kehormatan Hakim.

    Selanjutnya, dalam persidangan pertama yang digelar untuk hakim terlapor Acep berlangsung tertutup. Wartawan tidak diperkenankan untuk mengikuti persidangan hingga selesai pembacaan pembelaan atas Acep.

    Acep didakwa atas pelanggaran kode etik hakim dengan tuduhan tindak asusila berupa perselingkuhan. Acep dilaporkan istri keduanya, Erna Yulianti, setelah diketahui berselingkuh.

    Atas tindakan Acep yang tidak beretika tersebut, Majelis Kehormatan Hakim yang terdiri dari 7 anggota yang diketuai oleh Suparman Marzuki dari Komisi Yudisial memutuskan untuk memberhentikan Acep dengan hormat.

    ’’Memutuskan pemberhentian dengan hormat atau pemberhentian dengan hak pensiun,’’ ucap Suparman saat membacakan amar putusan dalam persidangan tersebut.

    Pertimbangan Suparman untuk mengeluarkan keputusan yang ’’lunak’’ terhadap Acep tersebut  dikarenakan Majelis Kehormatan Hakim menerima sebagian pembelaan yang diajukan oleh Acep. Selain itu Suparman mengatakan bahwa dalam persidangan Acep mengaku bersalah dan ingin siap memperbaiki diri.

    ’’Dia diberi kesempatan untuk mencari pekerjaan lain dan juga merupakan tulang punggung keluarga,’’ katanya seusai memimpin sidang.

    Suparman juga mengatakan bahwa keputusan tersebut sudah cukup keras dalam menindak hakim yang nyeleneh. ’’Ini sudah cukup keras," tandasnya.

    Sementara itu, hakim terlapor kedua, Asmadinata mengalami nasib yang lebih buruk lagi. Hakim yang dulu pernah bertugas di Pengadilan Negeri Semarang sebagai hakim ad hoc tipikor tersebut dihukum dengan pemberhentian dengan tidak hormat oleh Majelis Kehormatan Hakim.

    Namun tidak seperti sidang Acep, persidangan Asmadinata berlangsung terbuka untuk umum. Asmadinata dilaporkan terlibat kasus suap saat menangani kasus dugaan tindak pidana korupsi pemeliharaan mobil dinas DPRD Grobogan yang menjerat Ketua DPRD Grobogan M. Yaeni. Kasus tersebut dikerjakan bersama-sama oleh hakim Kartini Marpaung serta hakim Heru Subandono pada tahun 2012 lalu. Keduanya akhirnya ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    Selama persidangan, Asmadinata banyak dicecar oleh seluruh anggota Majelis Kehormatan Hakim tentang kredibilitas dirinya sebagai hakim yang saat itu menangani kasus tindak pidana korupsi.

    Selain itu Majelis Kehormatan Hakim yang beranggotakan 7 orang dan diketuai oleh I Made Tara dari MA menyatakan tidak menerima satu pun pembelaan yang diajukan oleh Asmadinata. ’’Pembelaannya tidak didukung oleh fakta-fakta. Dia hanya menceritakan kronologisnya saja," ucap Made kepada wartawan.

    Made juga menjelaskan bahwa hakim yang menangani suatu perkara tidak diperkenankan untuk menjalin hubungan dengan pengacara atau pihak yang sedang berperkara. ’’Tidak boleh dilakukan. Itu sudah ada kode etiknya," ujarnya.

    Saat dimintai konfirmasi apakah Asmadinata selanjutnya akan ditindak secara pidana oleh KPK, Made enggan memberikan komentar yang jelas. ’’Itu urusan lain, sidang ini cuma tentang perilaku hakim," ujarnya. (jpnn/c3/ary)