Jum'at, 25 April 2014
     
Home Metro Bisnis Waspada Sudden Reversal!

Waspada Sudden Reversal!

360
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita

JAKARTA – Derasnya dana investasi yang masuk ke sistem finansial Indonesia membawa angin gembira sekaligus waswas. Di satu sisi, dana itu menggairahkan pasar modal. Namun, di sisi lain menyimpan potensi sudden reversal yang berbahaya.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brodjonegoro mengatakan, potensi sudden reversal atau pembalikan arus modal secara tiba-tiba kini terus didalami pemerintah.

’’Apalagi banyak negara tengah melakukan pelonggaran likuiditas, sehingga dana-dana itu pasti akan mengincar pasar potensial. Salah satunya Indonesia,” ujarnya kemarin.

Potensi sudden reversal di negara-negara yang sedang tumbuh di kawasan Asia juga sudah menjadi perhatian Bank Dunia. Dalam laporannya baru-baru ini, Bert Hofman, kepala ekonom regional Bank Dunia di Singapura, memperingatkan negara-negara di Asia agar mewaspadai risiko efek kepanasan perekonomian atau overheating pada kredit dan harga aset.

Menurut kajian Bank Dunia, kondisi itu dipicu oleh membanjirnya likuiditas di sejumlah negara maju, khususnya Eropa, Amerika Serikat (AS), dan Jepang. Penetapan suku bunga acuan ultra rendah hampir mendekati nol dan pelonggaran kuantitatif (QE) di AS, UE, serta Jepang telah menyebabkan eksodus uang besar-besaran ke pasar negara berkembang, termasuk Asia. ’’Mereka berharap mendapat keuntungan besar,” katanya.

Data Bank Dunia menunjukkan, arus modal bruto yang mengalir ke Asia sepanjang Januari–Maret 2013 mencapai USD46,8 miliar, naik 86,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Sementara itu, aliran dana asing ke sejumlah pasar saham di Asia melonjak lipat dua year on year (yoy) dari USD5,6 miliar menjadi USD13,2 miliar.

Sayangnya, sebagian dana itu mengalir ke instrumen investasi jangka pendek yang bersifat spekulatif atau hot money, terutama di pasar properti dan keuangan. Derasnya aliran dana spekulatif itu dinilai sangat mengkhawatirkan. ’’Ini bisa memicu bubble asset (gelembung aset, Red),” ucapnya.

Sebab, jika dana itu ditarik secara tiba-tiba atau terjadi sudden reversal, perekonomian dan keuangan di kawasan Asia bisa kolaps. ’’Sebab, kenaikan di aset pasar modal dan properti di beberapa negara sudah melampaui nilai fundamental,” kata Hofman.

Lalu, apa strategi Indonesia untuk meminimalisasi risiko sudden reversal? Bambang menyebut, strategi utama adalah menjaga fundamental makro ekonomi agar tetap kuat, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi maupun inflasi. ’’Sebab, inilah peredam utama sudden reversal,” ujarnya.

Selain itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengatakan, Indonesia juga harus melakukan pendalaman pasar keuangan melalui pengembangan instrumen investasi. ’’Ini penting agar dana-dana itu bisa di-hold (ditahan, Red) lebih lama,” ungkapnya. (jpnn/p2/c2/wan)