|
Potret Kemiskinan Warga Kota Metro (2)Saat para pejabat Metro hidup enak dengan berbagai macam fasilitas yang disediakan, baik melalui dana pusat dan daerah, masih banyak warga yang membutuhkan uluran tangan meski hanya untuk bertahan hidup. Karena urusan perut inilah, banyak dari keluarga kurang beruntung yang tidak bisa berobat walaupun penyakit yang diderita sudah parah
Laporan Fajar Aditya Arifin, METRO
’’DARIPADA nggak makan, mendingan nggak berobat Mas. Saya cuma kerja nyuci baju, sedangkan suami saya hanya nganyam bambu. Itu pun kalau ada orang yang pesan. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana mungkin saya bisa membiayai pengobatan anak-anak saya ke rumah sakit?" ujar Mariyem disertai anggukan Senadi di rumahnya.
Yang diungkapkan Mariyem bisa jadi mewakili mayoritas warga miskin yang mengalami nasib serupa dengan pasutri yang tinggal di Jalan Mujahir, Kelurahan Yosodadi, Metro Timur, tersebut.
Setelah pasrah karena tidak mempunyai uang untuk mengobati dua kaki anak pertamanya yang membesar, ia juga harus menahan dada dan pasrah melihat Supriyadi (21), anak ketiganya yang harus menjalani hidupnya dengan satu kaki dirantai.
Tak hanya dirantai, Supriyadi juga harus menghuni satu ruangan berukuran 1,5 x 1,5 meter seorang diri. Untuk mendapatkan udara segar, bagian depan bangunan itu diberi jendela berbentuk jeruji besi bak narapidana di lembaga pemasyarakatan. Sungguh menyedihkan!
Berdasarkan penuturan Senadi dan Mariyem, penderitaan Supriyadi berawal dari sakit panas tinggi plus kejang-kejang yang dialaminya. Saat itu, dia masih berusia empat bulan. ’’Karena panik, saat itu saya dan suami membawanya ke RS Ahmad Yani. Kata dokter waktu itu, Supriyadi terkena radang otak,” tutur Mariyem dengan sorot mata menerawang.
Karena tidak memiliki cukup uang, lanjut dia, sang jabang bayi kemudian dibawa pulang. Ujian Supriyadi tak cukup sampai di situ. Beberapa tahun kemudian, pendengaran Supriyadi mengalami masalah. Sampai akhirnya menjadi tuli dan bisu. ’’Hingga saat ini, dia masih sering kejang-kejang. Dalam sehari, dia bisa mengalami kejang 3-4 kali,” ungkapnya.
Selain kejang, Supriyadi kerap mengamuk sendiri dengan membanting berbagai macam benda yang ada di sekitarnya.
Sebagai orang tua, pasutri ini sudah berusaha maksimal untuk membuat Supriyadi dapat hidup normal. ’’Kami pernah membawanya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Kemiling. Dia dirawat selama enam bulan di sana. Karena tidak ada perkembangan, dan saya juga tak punya dana, makanya setelah konsultasi ke Pak Lurah, Supriyadi kami bawa ke rumah lagi,” tuturnya.
Kenapa Supriyadi dirantai? ’’Dia terpaksa dirantai (setelah konsultasi dengan RT, lurah, dan pihak berwajib) karena sering mengamuk. Tahun 2003 lalu, saya pernah dibacok dengan golok,” ungkap Senadi.
Tak cukup dengan bacokan itu, Senadi kembali mendapat sial lantaran Supriyadi berulah lagi dengan mengayunkan sebuah kayu balok dan mengenai kepala sang bapak. Berdasarkan penuturan Senadi dan Mariyem, Pemerintah Kota Metro bukannya tidak mengetahui kondisi ini. Sebab, beberapa bulan lalu, Netti Lukman (istri wali kota Metro) sempat datang untuk melihat kondisi keluarga ini secara langsung.
’’Saat itu Ibu Wali Kota membawa empat dus Supermi, satu kaleng Astor, gula, dan beras. Selain itu tidak ada lagi. Rp1.000 pun tidak saya terima. Waktu itu, beliau juga bersedia untuk mengusahakan pengobatan ke anak-anak saya, tetapi sampai saat ini ternyata tidak juga diobati. Terus terang, saya berharap pemerintah mau memberikan jalan agar kedua anak saya normal kembali," ujar Senadi dengan air mata merembes dari kedua kelopak matanya. (bersambung/c1/adi)



KANTOR PUSAT: GRAHA PENA LAMPUNG, Jl. Sultan Agung No. 18 Kedaton, Bandarlampung - 35115 - Indonesia | Telp. (0721) 789750 - 782306, Fax. (0721) 789752 - 773930