Jum'at, 29 Agustus 2014
     
Home Berita Utama Petani Lampung Menjerit

Petani Lampung Menjerit

1759
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
Dahlan Iskan Responsif, Dirut PT SHS Dicopot
BANDARLAMPUNG – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan merespons kekecewaan para petani Lampung yang gagal panen akibat rendahnya kualitas benih padi 64 tahun 2012. Benih ini merupakan program Kementerian Pertanian (Kementan) yang disalurkan melalui salah satu BUMN, yakni PT Sang Hyang Seri (SHS Persero).

’’Ya, silakan petani ajukan keberatannya. Dan tolong ya, saya dikabari lebih lanjut,’’ kata Dahlan kepada Radar Lampung di Surabaya akhir pekan lalu.

Seperti diketahui, para petani di Lampung merasa kecewa atas rendahnya hasil panen yang menggunakan benih padi 64. Sebab untuk 1/4 hektarenya hanya menghasilkan 6 karung. Padahal jika menggunakan benih jenis lain bisa menghasilkan 30 karung.

’’Selain itu perawatan benih 64 itu luar biasa mahal. Namun, hasilnya sangat mengecewakan,” keluh Sumir, salah satu petani di Kecamatan Seputihbanyak, Lampung Tengah, kepada Radar Lampung.

Dia menganggap bibit padi produk PT SHS telah ’’menjerumuskan’’ mereka. ’’Tidak hanya itu. Saat ditanam bibit hidup dan tumbuh, tetapi di tengah perawatan superekstra malah mati saat menjelang panen. Uang untuk perawatan dan pembelian pupuk tidak sebanding dengan hasilnya,” ujar Sumir.

Dibyo, petani lain di Kecamatan Trimurjo, Lamteng, juga mengeluhkan hal yang sama. ’’Saya kapok. Kami bangkrut. Saya lebih senang menggunakan bibit sendiri. Bibit yang saya buat dari hasil panen yang bagus. Jadi hasilnya lebih terukur dan maksimal,” katanya.

Tidak hanya di Lamteng, dari penelusuran Radar Lampung, kondisi serupa juga dirasakan kelompok tani di Lampung Barat yang mendapat suplai benih 64 dari PT SHS. Tercatat ada empat kelompok tani yang mengeluhkan buruknya kualitas benih padi.

Diketahui, PT SHS menjadi pemasok utama benih padi nasional yang mencapai 200 ribu ton benih. Jumlah tersebut mengacu pada kebutuhan benih di tahun 2013 sebanyak 325 ribu ton, dengan acuan lahan sawah secara nasional yang siap tanam seluas 13 juta hektare.

Kepala Dinas Pertanian Lambar Noviardi Kuswan membenarkan buruknya benih PT SHS. ’’Meski empat kelompok tani ini tidak melaporkan secara resmi, kami tetap menindaklanjuti dengan mengganti benih yang dianggap kurang baik dengan benih baru. Mau tidak mau, kami sediakan 2 ton benih yang baru untuk para petani yang merugi itu,” tuturnya.

Nasib serupa dialami petani di Pesawaran. Tak pelak, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) setempat mengirimkan berkas acara pemeriksaan (BAP) sebagai bentuk komplain atas kualitas benih padi bantuan dari Kementerian Pertanian pada awal Desember 2012.

’’Ya, kami komplain atas mutu benih yang tidak bagus. Tetapi, BAP kami kirimkan kepada PT Sang Hyang Seri (SHS) selaku produsen benih padi bantuan dari Kementan tersebut,’’ ujar Kadistannak Pesawaran Ir. Lukmansyah, M.M., melalui Kabid Tanaman Pangan Ir. Budi Wirawan kepada Radar Lampung kemarin.

Dia mengatakan, pada November 2012, sebanyak 175 kelompok tani di Pesawaran mendapatkan bantuan benih padi dari Kementan. Masing-masing kelompok tani memperoleh 150 kilogram benih.

’’Nah, dari 175 kelompok tani yang mendapatkan bantuan benih dari Kementan, hampir semuanya mengajukan komplain atas mutu benih yang tidak baik kepada kami. Akhirnya, komplain dari petani itu kami teruskan kepada PT SHS dengan mengirimkan BAP,’’ ungkap dia.

Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lampung ini melanjutkan, setelah pihaknya mengirimkan BAP pada awal Desember 2012, tim dari PT SHS berkunjung ke Pesawaran pada awal Januari 2013.

’’Nah, saat itu mereka memeriksa benih hasil produksi perusahaannya yang diberikan kepada petani. Tetapi setelah pemeriksaan itu, hingga sekarang tidak ada tindak lanjutnya dan tak ada pergantian benih,” tukasnya.

Dia menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya, PT SHS memang menjadi perusahaan yang selalu ditunjuk Kementan untuk memberikan bantuan benih padi hibrida kepada petani. Namun, kualitas benih yang diberikan selalu baik. ’’Jadi kami heran, kenapa bantuan kali ini kualitasnya sangat jelek,’’ tandasnya.

Budi menerangkan, jeleknya benih padi yang diberikan PT SHS ditunjukkan dengan daya tumbuh yang kurang. ’’Selain itu, pertumbuhannya juga tidak seragam,” paparnya.

Akhirnya, imbuh dia, kelompok tani yang mendapatkan bantuan benih harus membeli sendiri benih padi lantaran kualitas benih bantuan sangat jelek. ’’Karenanya, kami berharap pemerintah pusat dalam hal ini Kementan mengganti benih bantuan kepada petani,” ucap dia.

Gabungan kelompok tani (gapoktan) Kabupaten Tulangbawang Barat pun menguak kualitas benih padi PT SHS. Edi Purwantono, ketua Gapoktan Asrijaya, mengaku selain buruk, benih PT SHS mudah terserang penyakit.

Malah awal tahun ini, 90 persen sawah milik gapoktan rusak terkena blast. Imbasnya, para petani di Kelurahan Mulyaasri, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tuba Barat, ini merana.

Menurut Edi, saat ini total luas lahan sekitar 75 hektare yang menggunakan benih padi PT SHS mengalami gagal panen. ’’Jamur membuat tanaman padi mengering dengan sendirinya,” kata dia.

Senada diungkapkan Hartono, ketua Gapoktan Sekarjaya. Dia mengungkapkan bahwa saat ini di gapoktan yang dipimpinnya juga terkena hama blast. Namun, kondisinya tidak terlalu parah seperti gapoktan yang ada di Mulyaasri. Saat ini gapoktan tersebut terpaksa beralih menanam padi Mikomba yang juga bantuan Pemkab Tuba Barat.

Di gapoktan yang menaungi 18 kelompok tani ini, menurut Edi, lebih teliti mulai penyemaian/penanaman awal untuk diambil menjadi benih. Sehingga serangan blast tidak membuat padi-padi mereka hancur.

Kerugian yang dialami akibat benih buruk membuat petani di Kabupaten Pringsewu banting setir memilih benih lain. Seperti penuturan Nurwahid, ketua Kelompok Sumbertani Pekon Sumberagung, Kecamatan Ambarawa.

Ia memaparkan, anggotanya yang berjumlah sekitar 50 orang dengan luasan tanam 25 hektare kini menanam benih Ciherang. ’’Pertumbuhannya masih bagus ketimbang benih PT SHS,” beber Nurwahid.

Pembelaan terhadap kualitas benih PT SHS dilontarkan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Lampung Selatan (Lamsel). Mereka memastikan sejauh ini tidak ada masalah dengan pendistribusian bibit padi yang dilakukan oleh PT SHS.

Padahal pada pengadaan CBN tahun 2009 dan 2010 terjadi perbedaan volume dalam program antara dokumen PT SHS khususnya dengan Dinas Pertanian kabupaten di Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Pesawaran. Di mana komoditas jagung hibrida di Kabupaten Pesawaran tahun 2009 terdapat penyaluran PT SHS sebanyak 16.977 kg.

Namun, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) menepis bahwa bibit padi yang didistribusikan perusahaan BUMN itu berkualitas tidak baik.

’’Tidak ada itu. Selama ini tak ada masalah dengan bibit padi yang didistribusikan PT SHS,” kata Kepala DPTPH Lamsel Ir. Muverdi Chaniago kepada Radar Lampung.

Mantan sekretaris DPTPH Provinsi Lampung itu mengungkapkan, jika memang ada kendala dengan bibit padi yang didistribusikan oleh PT SHS, pasti sudah ada keluhan dari petani dan laporan dari petugas pertanian yang ada di lapangan.

’’Tetapi sejauh ini kan tidak ada masalah. Tak ada petani yang mengeluhkan mengenai kualitas bibit padi dari SHS. Selain itu juga tidak ada laporan dari petugas kami yang ada di bawah. Kalau bibit padi yang didistribusikan berkualitas jelek, pasti sudah ada laporan yang masuk ke kami,” tegasnya.

Meski demikian, Muverdi menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan ke lapangan untuk memantau kualitas bibit padi yang diterima masyarakat.

Sedangkan untuk Kabupaten Tanggamus, Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Drs. Hasanudin menyebutkan untuk tahun ini, petani di wilayahnya tidak mendapatkan bantuan dari PT SHS.

’’Untuk tahun 2012 lalu, Tanggamus memang mendapatkan bantuan benih dari PT SHS. Tetapi mutu dan kualitas benih tersebut baik. Di mana produksi padi di tahun itu stabil dan tidak terganggu. Tetapi tahun ini tidak ada bantuan,” ungkap Hasanudin.

Dahlan Copot Dirut PT SHS

Sementara, banyaknya keluhan terhadap benih PT SHS membuat Menteri BUMN Dahlan Iskan mengambil langkah tegas. Secara resmi, Dahlan mencopot direktur utama PT Sang Hyang Seri (SHS) Persero dan dua karyawannya.

Pencopotan tersebut menyusul penetapan ketiga orang itu sebagai tersangka kasus korupsi proyek pengadaan benih pada Direktorat Jenderal Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian periode 2008-2012.

Dahlan menjelaskan, saat mengangkat ketiga direksi dan karyawan tersebut, pihaknya benar-benar memastikan apakah tiga karyawan SHS ini bermasalah atau tidak. Sebab, ketiga karyawan ini memang terlibat kasus pengadaan bibit tersebut dengan Kementerian Pertanian.

Selama ini, bisnis SHS dan PT Pertani Persero selalu tergantung dengan proyek-proyek dari Kementerian Pertanian. Padahal, Dahlan ingin agar dua anak BUMN bidang pertanian ini melakukan bisnis dengan caranya sendiri, bukan meminta proyek dari kementerian lain.

’’Mereka sendiri juga mengeluh karena tender-tender yang diikutinya. Mereka merasa menjadi korban. Jadi saya ingatkan untuk tidak tergantung dengan proyek itu. Harusnya cari bisnis sendiri di luar proyek-proyek tadi. Tidak dapat proyek juga tak apa-apa,” ucapnya.

Sebagai penggantinya, Dahlan mengangkat direksi baru, yaitu Upik Rosalina Wasrin menjadi Dirut SHS. Beliau saat ini menjadi asisten deputi Bidang Pembinaan Kemitraan dan Bina Lingkungan BUMN yang merupakan lulusan doktor dari Prancis.

’’Kita sangat memahami kekecewaan para petani yang mendapat suplay benih padi PT. SHS. Untuk itu kita langsung mencopot direksinya. Mereka yang menggugat sangat kita hargai,’’ katanya.

Diketahui, Kapuspenkum Kejagung Setia Untung Arimuladi menyebutkan bahwa Dirut PT Sang Hyang Seri (SHS) K dan dua anak buahnya yaitu SH (karyawan) dan H (manajer kantor cabang SHS Tegal) sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan benih di Kementerian Pertanian periode 2008-2012.

Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Penyidikan No. 16, 17, dan 18/F.2/Fd.1/02/2013 tertanggal 8 Februari 2013.

Sejauh ini, Kejagung kembali memanggil empat PNS Kementerian Pertanian untuk diperiksa sebagai saksi. Yakni Direktur pada Ditjen Tanaman Pangan, yang sekarang diubah menjadi Direktur Budi Daya Serelia Rahman Pinem. Lalu Kepala Subbidang Perbendaharaan pada Ditjen Tanaman Pangan Yusman, Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Bambang Budianto, serta Kepala Subdit Benih Kacang dan Umbi Widjatmiko. (jar/gyp/whk/fei/sag/dur/jpnn/p5/c1/ary)

Kronologis Korupsi Benih Padi

- Tahun 2008-2012, Kementerian Pertanian menunjuk PT SHS (Persero) untuk pengadaan benih bersubsidi.

- Terjadi perbedaan volume tahun 2009 dan 2010 antara dokumen PT SHS dengan Dinas Pertanian kabupaten di Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Pesawaran yang terdapat penyaluran PT SHS sebanyak 16.977 kg.

- Pada tahun 2010 di Kabupaten Lamsel, sesuai data di PT SHS, terdapat penyaluran CBN padi nonhibrida sebanyak 113.871 kg, dan di Kabupaten Lamtim sesuai data PT SHS telah menyalurkan CBN jagung hibrida sebanyak 10.740 kg. Namun sesuai data di Dinas Pertanian Lamtim hanya menerima benih tersebut sebanyak 9.780 kg, sehingga terdapat selisih lebih banyak 960 kg.

- Kelompok tani sesuai buku perjanjian jual-beli kedelai, terjadi juga pengadaan benih kedelai yang fiktif kurang lebih sebesar Rp4.627.060.000 dan markup volume maupun harga benih kedelai kurang lebih sebesar Rp1.018.450.000, yang dilakukan oleh Kantor Cabang PT SHS di Lampung Timur dengan para kelompok tani sesuai perjanjian jual-beli benih kedelai yang ditandatangani oleh Hartono yakni bekas manajer cabang PT SHS dari tahun 2008 sampai 2011 dan Subagyo, mantan manajer cabang PT SHS dari tahun 2011 sampai 2012.
Diolah dari Berbagai Sumber

Info Langganan