Hari Ini!  Jum'at, 18 Mei 2012
Home Bandarlampung Metropolis Jangan Panik bila Bayi Kolik!

Jangan Panik bila Bayi Kolik!

E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
BAYI Anda sering mendadak rewel menjelang malam hari? Bisa jadi bayi mengalami kolik. Diperkirakan sekitar 40 persen bayi menderita kolik. Ibu harus mengetahui gejala dan cara mengatasi gangguan ini.

’’Bayi yang menangis berlebihan dan sukar untuk didiamkan disebut kolik. Gejala kolik ditandai dengan menangis kuat dan keras, nyeri perut yang jelas, serta rewel,” ujar dr. Billy Rosan, Sp.B.A. kepada Radar Lampung kemarin.

Ia menjelaskan, kolik adalah sensasi nyeri perut yang disebabkan aktivitas peristaltik atau gelombang kontraksi berturut-turut pada alat pencernaan yang mendorong sisa makanan ke arah anus yang berlebihan.

Kolik sering terjadi. Gejala ini bahkan ditemukan pada 1 di antara 10 bayi. Lebih sering terjadi pada anak pertama.

Kolik sering kali mulai timbul dalam waktu 10 hari sampai 3 minggu setelah bayi lahir dan berlangsung sampai bayi berusia 3–4 bulan.

Gejalanya berupa bayi tiba-tiba menangis keras dan sering terjadi pada waktu yang sama setiap harinya. Episode menangis bisa berlangsung selama beberapa menit sampai beberapa jam.

Lalu, rewel dan nyeri perut yang jelas terlihat dari posisi bayi yang menarik lututnya ke arah perut. Biasanya kolik akan menghilang dengan sendirinya. Meskipun nyeri perutnya jelas, bayi yang mengalami kolik tetap mau makan dan berat badannya bertambah.

    ’’Ciri-ciri yang ditimbulkan bayi kolik biasanya dimulai dengan muka yang memerah atau mimik wajah yang tampak aneh, Saat menangis, dia juga meringkuk, menggenggam tangannya dan menarik kedua kakinya ke perut, serta selalu merasa haus. Tanda-tanda itu dikarenakan perut bayi kejang,” papar Billy.

Episode menangis cenderung terjadi pada waktu yang sama setiap harinya, tetapi sebagian kecil bayi menangis seharian. Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi beberapa faktor berikut diduga berperan dalam terjadinya kolik.

Di antaranya menelan udara selama menangis, makan atau mengisap jari, dan pemberian makan yang berlebihan, baik berupa air susu ibu (ASI) maupun susu formula. Kemudian ketegangan dalam keluarga dan kecemasan pada orang tua, alergi usus terhadap susu, serta refluks esophageal atau isi cairan dari lambung dimuntahkan kembali ke dalam esofagus.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kolik mungkin berhubungan dengan refluks esofagitis. Yaitu suatu keadaan yang terjadi jika kerongkongan mengalami iritasi karena asam dari lambung mengalir kembali ke kerongkongan. (nur/c2/dna)

Tenangkan dan Kurangi Nyerinya

Tidak ada pengobatan khusus untuk mengatasi kolik. Tetapi, tindakan berikut bisa dilakukan untuk mengurangi nyeri dan menenangkan bayi.

Gendong bayi dengan posisi kepala dalam keadaan tegak atau baringkan bayi dengan posisi kepala lebih tinggi dari bagian tubuh lainnya. Bayi yang aktif boleh dibedong.

Jika menyusu melalui botol hanya berlangsung kurang dari 20 menit, mungkin lubangnya terlalu besar. Sebaiknya dot diganti dengan dot yang memiliki lubang lebih kecil.

Jika setelah selesai menyusu bayi tampak masih ingin mengisap, bisa diberikan kempeng. Jangan terlalu banyak memberikan susu atau jangan menyusui terlalu cepat!

Berikan kehangatan pada perut bayi melalui botol berisi air panas yang dibungkus dengan kain yang lembut. Mengayun-ayun, menggendong, atau menepuk-nepuk bayi bisa membantu menenangkan bayi. Ada juga bayi yang menjadi tenang jika diajak jalan-jalan naik mobil atau jika mendengarkan suara pengering rambut maupun penyedot debu.

Jika setelah 30 menit usaha menggendong atau menenangkan bayi tidak berhasil, biarkan bayi menangis dan nanti dia akan tertidur dengan sendirinya karena lelah. Jika setelah 15 menit bayi masih menangis, gendong dan tenangkan kembali.

Kadang diberikan obat-obatan. Sejumlah obat-obatan telah dicoba, seperti obat pengendur otot, antasid, antigas, obat penenang yang ringan, dan antihistamin. Tapi, belum ada yang terbukti manjur.

Orang tua tidak boleh memberikan obat untuk kolik kepada bayi yang berumur di bawah 6 bulan tanpa sepengetahuan dokter. (dbs/c2/dna)

Mengatasi Bayi Menangis

Memang bisa jadi sangat rumit untuk mengetahui penyebab bayi menangis, terutama pada awal kelahirannya dan Anda adalah seorang ibu baru. Untuk membantu Anda, berikut ini sepuluh penyebab bayi menangis dan bagaimana cara mengatasinya seperti dikutip dari babycenter.

1.    Lapar

Cobalah untuk mengenali tanda-tanda kapan bayi Anda lapar dan kapan Anda harus menyusuinya (jika masih berusia di bawah enam bulan) atau diberi makan (di atas enam bulan). Beberapa tanda yang diberikan bayi baru jika mereka lapar adalah, mulut dan lidah mengeluarkan gerakan mengisap, tangan bergerak ke arah mulut berulang kali, tangisan atau suaranya pelan, dan kepalanya secara refleks berputar saat Anda menempelkan tangan di dekat pipinya.

2.    Buang Air Kecil atau Besar

Beberapa bayi akan segera memberi tahu Anda saat mereka ingin popoknya diganti karena mereka buang air kecil atau besar. Sementara beberapa bayi bisa menoleransi untuk tidak segera diganti. Masalah kedua ini tentu lebih mudah diketahui. Anda tinggal mengecek apakah memang popoknya basah atau tidak.

3.    Mau Tidur

Orang dewasa kerap berpikir jadi bayi itu menyenangkan, mereka bisa langsung tidur jika mengantuk, kapan pun dan di mana pun mereka mau. Namun, kenyataannya ternyata tidak semudah itu. Bayi bisa resah dan menangis saat mengantuk, apalagi jika mereka terlalu lelah. Jika bayi menangis karena hal ini, Anda bisa menenangkan dengan menggendongnya, menyusuinya, bicara lembut dengannya atau bernyanyi.

4.    Ingin Digendong atau Dipeluk

Bayi senang dipeluk atau digendong orang tuanya. Mereka suka melihat wajah orang tuanya, mendengar suaranya dan detak jantungnya atau bahkan mencium bau khas Anda. Menangis bisa jadi salah satu caranya memberi tahu kalau dia ingin dipeluk atau digendong.

5.    Masalah di Perut

Bayi yang kolik biasanya akan menangis tidak berhenti-henti. Saat bayi kolik, usahakan terus ada di dekatnya. Gerakan dan kontak tubuh ibu dapat sedikit menenangkannya. Anda juga bisa mencoba menelungkupkan bayi melintang di pangkuan sambil menggosok-gosok punggungnya.

6.    Ingin Disendawakan

Jika bayi menangis setelah disusui, bisa jadi dia butuh disendawakan. Bayi bisa terlalu kenyang sehingga dia merasa tidak nyaman, makanya sendawa perlu dilakukannya. Untuk menyendewakannya, Anda bisa mencoba meletakkan bayi di pundak, lalu tepuk-tepuk pelan punggungnya.

7. Kedinginan atau Kepanasan

Bayi bisa menangis karena dua hal ini, merasa kedinginan atau kepanasan. Namun, bayi umumnya lebih merasa tidak nyaman jika mereka kepanasan ketimbang kedinginan. Pastikan Anda paham kapan mereka merasakan kedua hal tersebut. Misalnya jika Anda memakaikan baju yang terlalu tebal, copot baju tersebut hingga bayi merasa nyaman.

9. Tumbuh Gigi

Bayi bisa sangat rewel saat giginya mulai tumbuh, hal itu karena dia merasakan sakit pada gusinya. Kalau Anda melihat bayi menangis namun tidak juga tahu apa penyebabnya, cobalah sentuh gusinya dengan jari. Kalau ternyata ada bagian yang kasar, artinya si kecil sedang tumbuh gigi.

10. Sakit

Kalau Anda merasa semua kebutuhan bayi sudah terpenuhi, namun dia masih menangis. Dia mungkin saja sakit. Coba cek temperatur tubuhnya untuk mengetahui apakah dia demam atau tidak.

Tangisan bayi yang menangis biasanya berbeda dengan saat mereka lapar atau sedih. Kalau Anda merasa tangisannya terdengar tidak biasa, percayalah insting Anda dan hubungi dokter. (dna)

Beri Komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim.
Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
HATI-HATI TERHADAP SEGALA BENTUK PENIPUAN YANG MENCANTUMKAN NOMOR TELEPON DAN ALAMAT EMAIL/WEB ATAU SOCIAL NETWORK LAINNYA YANG ADA DALAM ISI KOMENTAR!..


Security code
Refresh