Jum'at, 25 Juli 2014
     
Home Bandarlampung Warning, Banyak RS Minus Incinerator!

Warning, Banyak RS Minus Incinerator!

1076
Kali Dibaca
E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
BANDARLAMPUNG - Incinerator atau sarana untuk menghancurkan limbah medis mutlak diperlukan oleh instalasi layanan kesehatan seperti rumah sakit. Mirisnya, tak semua RS di Kota Bandarlampung mempunyai incinerator.

Sejumlah RS terang-terangan mengaku tak memilikinya. Namun, pihak rumah sakit mengklaim punya cara untuk mengeliminasi limbah medis tersebut.

Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda As-Syifa memastikan, meski tak mempunyai peralatan itu, mereka bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengolah limbah yang dihasilkan RS.

Wakil Direktur RSIA Bunda As-Syifa dr. Novan Harun menjelaskan, untuk limbah cair, RS-nya memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Namun untuk limbah medis noncair yang notabene memerlukan incinerator, dia mengklaim rumah sakitnya tak terlalu banyak memproduksinya.

’’Limbah noncair kami kan sedikit. Sebab, kami hanya memiliki 32 tempat tidur. Rumah sakit kami kan khusus ibu dan anak. Untuk pengolahan limbah medis noncair, kami bekerja sama dengan pihak swasta yang ditunjuk Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH). Limbah kami diangkut CV Noor Aniisa untuk dimusnahkan di perusahaan incinerator di Tangerang,” tegasnya. Sehingga meski RSIA Bunda As-Syifa tak punya incinerator, persoalan limbah tak menjadi masalah.

Rumah sakit lainnya yang tak mempunyai incinerator adalah RS DKT Bandarlampung. Namun, Kepala RS DKT dr. Virni Sagita Ismayati mengatakan, rumah sakitnya menggunakan incinerator RSUD Abdul Moeloek dengan sistem kerja sama. RS DKT, ungkap dia, membayar Rp15 ribu untuk per kilogram limbah yang masuk RSUDAM.

Ia menjelaskan, setiap hari sampah medis yang dihasilkan RS DKT tidak terlalu banyak. Rata-rata dalam sehari, sampah medis yang dihasilkan hanya sekitar 2 kg. ’’Untuk pengambilan sampah medis dilakukan petugas dari RSUDAM. Sampah medis kita paling sekitar 2 kg per hari karena pasien kita juga sedikit,” bebernya.

Rumah Sakit Urip Sumoharjo (RSUS) juga tak memiliki incinerator. Namun, RSUS mengakali pemusnahan limbah medisnya dengan cara menggandeng pihak ketiga. ’’Dahulu memang sempat kontrak dengan RSUDAM terkait pembuangan sampah medis tersebut. Karena RSUDAM yang memiliki alat incinerator, maka kami kerja sama dengan kontrak membuang di sana,” bebernya.

Sementara, Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin (RSPBA) mengaku telah menggunakan incinerator pengolahan sampah medis padat. Alat tersebut resmi beroperasi sejak Januari 2013.

Manajer Bisnis RSPBA Fither Romilado mengatakan, sejak incinerator resmi beroperasi, setidaknya ada tiga klinik yang melakukan kerja sama dalam hal pengolahan limbah medis padat dengan pihak rumah sakit.

’’Untuk besaran tarif pengolahan limbah kami samakan dengan pihak RSUDAM, yakni Rp15.000/kg. Kebetulan komitmen kami bukan murni komersial,” ungkap Fither.

Kapasitas mesin incinerator yang dimiliki RSPBA tergolong besar. Untuk itu, pihaknya tidak melakukan pembakaran setiap hari. Selain itu, kapasitas rawat inap yang dimiliki RSPBA tergolong belum banyak seperti di rumah sakit provinsi dan kota. Sehingga limbah yang dihasilkan belum terlalu banyak.

’’Biasanya kami tampung dahulu antara 80-100 kg, baru kemudian dibakar. Atau paling tidak seminggu sekali kami bakar,” jelasnya.

Dari jajaran rumah sakit pelat merah, di samping RSUDAM, Rumah Sakit Kota dr. Dadi Tjokrodipo belakangan juga telah mempunyai incinerator. Mesin tersebut diakui sebagai hasil hibah pemerintah pusat pada Desembr 2012 silam.

’’Kami baru memiliki instalasi pengolahan air limbah atau incinerator pada Desember 2012 silam. Namun karena masih baru sehingga kami baru tahap uji coba. Di mana setiap tiga bulan ada BPLH melakukan pengujian (tes),” ungkap Humas RS Kota Bandarlampung Heriyansyah kepada Radar Lampung via ponselnya kemarin.

Ia menuturkan, awalnya untuk sampah ini dikirim ke RSUDAM. Tetapi sekarang tidak boleh, maka otomatis bakar sendiri. ’’Untuk pembakaran dilakukan di sini. Namun pembuangannya akan dikirim ke Cilegon dan Batam,” kata dia. (asy/hyt/nur/eka/vie/cw1/p4/c1/wdi)