Hari Ini!  Jum'at, 18 Mei 2012
Home All Sport Pelatnas PB PABBSI Bergolak

Pelatnas PB PABBSI Bergolak

E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
JAKARTA – Digadang-gadang bisa ’’mencuri’’ medali pada Olimpiade 2012, Pelatnas PB PABBSI malah ribut sendiri. Jajaran pelatih menolak program sentralisasi yang diminta PB PABBSI. Pelatih ingin para atlet yang disiapkan ke Olimpiade berlatih di daerahnya saja.  

Sejak 2007, latihan pelatnas angkat besi dilakukan di sentra-sentra yang telah ditetapkan. Yakni Lampung, Balikpapan, dan Bekasi. Sekarang, PB minta atlet pelatnas memusatkan latihannya di Senayan. Tak sepaham, pelatih angkat bicara.

Kepada wartawan, pelatih timnas angkat besi Lukman mengatakan, meski tak terpusat, prestasi yang diraih selama ini membanggakan. Pada atlet yang dibina di tiga sentra tempat itu berhasil menunjukkan prestasi gemilang. Sebut saja Eko Yuli Irawan dan Triyatno.

Keduanya mampu menunjukkan hasil gemilang di beberapa kejuaraan bertaraf internasional. Eko adalah peraih perunggu pada Olimpiade Beijing 2008, emas pada SEA Games 2007 di Thailand, dan 2 perunggu pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2007 di Thailand. Sementara Triyatno meraih perunggu pada Olimpiade Beijing 2008, emas pada SEA Games 2007 di Thailand, dan peringkat 4 Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2007 di Thailand.

Demi program latihan terpusat, PB PABBSI pernah meminta dukungan kepada kalangan pengprov lewat tanda tangan dukungan agar pelatnas dilakukan terpusat. Hal itu mendapat penolakan keras dari para pelatih.  

’’Saya dan Imron (pelatih angkat besi Lampung) belum pernah dipanggil PB terkait lokasi latihan atlet. Mestinya,  kami diajak bicara supaya lebih paham. PB jangan menonjolkan egonya. Saya berharap PB lebih bijak,’’ tegas Lukman.

Lukman khawatir dengan waktu yang dimiliki pelatnas jelang Olimpiade yang terbatas permasalahan ini akan mengganggu konsentrasi atlet. Secara psikologis, Lukman menilai disentralisasi bisa menghasilkan prestasi yang lebih bagus dari sentralisasi pelatnas.  

Lukman mengungkapkan, jika pemusatan dilakukan sepekan atau sebulan jelang Olimpiade, itu bisa jadi solusi.  ’’Yang penting, kami bisa fasilitasi para atlet untuk latihan. Berikan kesempatan kepada daerah. Toh buktinya sudah ada,’’ ungkap Lukman. (jpnn/c2/ary)

Beri Komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim.
Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
HATI-HATI TERHADAP SEGALA BENTUK PENIPUAN YANG MENCANTUMKAN NOMOR TELEPON DAN ALAMAT EMAIL/WEB ATAU SOCIAL NETWORK LAINNYA YANG ADA DALAM ISI KOMENTAR!..


Security code
Refresh

 
Advertise